Jawa dan Juventus. Sama-sama berawalan J. Jadilah blog ini bernama javajuve.blogspot.com ges. Dan harapan kami sebenarnya tidak terlalu muluk-muluk. Bisa konsisten disini dalam waktu yang lama sudah cukup buat kami. Doa terbaik yang kami harap dari Juventino dimana saja berada. Kami juga ingin kedepan agar yang bisa menikmati blog ini lebih banyak dan lebih luas, tentu dengan beragam bahasa yang disajikan.
Mengapa ini kami lakukan? Pertama ini karena cinta kita semua pada Juventus. Kedua untuk mengisi waktu. Ketiga untuk mengungkapkan hobi dan semua rasa kita pada bola umumnya dan Juve pada khususnya.
Hal yang menarik adalah cinta kita pada tim ini. Kami yang mulai menyaksikan tim kurang lebih pada awal 2000-an langsung terpukau oleh ajaibnya sentuhan Alex Del Piero. Tak lama selepas Zidane dilego ke Madrid, tim ini mulai membangun lagi dengan masuknya macam Gigi Buffon, Pavel Nedved dkk.
Euforia Serie A saat itu yang paling kita ingat tentu bila Bianconeri atau tim lain meraih titel, maka tifosi di stadion sampai turun memasuki lapangan. Entah mengapa saat-saat itu adalah waktu yang ingin kita ulang kembali.
Di era 90-an ada satu momen yang paling sakral bagi Juventini adalah ketika meraih trofi terbaiknya Eropa untuk kali kedua. Kita pasti begitu mencintai Marcello Lippi. Ajax kita kalahkan walaupun hanya dengan adu penalti. Sangat khas bagi Italia kemenangan dengan adu penalti.
Kami menulis ini disaat Juventus telah mendapat sanksi pengurangan poin di musim 22/23. Tapi dengan kebangkitannya saat menyingkirkan Freiburg di Europa dan bersiap menghadapi kembali Inter Coppa setelah mengalahkannya di laga Serie A. Dengan kontroversi Rabiot.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar