Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

November 22, 2023

OH MAX ALLEGRI, APA ANDA JUGA SELALU MENCACI DAN MERAGUKAN PELATIH INI??

    javajuve.blogspot.com - Selamat malam viewers dan pendukung setia Juventus. Malam ini kita akan bahas tema yang paling bagong buat pendukung setia juve. Sesosok pria yang kalo lagi di pinggir lapangan sontak mungkin ada yang menyebutnya setress. Bagaimana tidak saya sendiri ngakak kalo doi sampe banting-banting pakaian apalagi tendang-tendang apalah yang ada di bawah. Ya kita akan membahas Orang Tua kita semua, siapalagi kalo bukan Bapak Allegri.

Sosok yang membuat semua Juventini ikut-ikutan setres di musim kemaren. Ada yang geregetan, ada yang bilang ALLEGRI OUT, ada juga yang bilang Allegri Out, eh sama aja ya? Sungguh kelihaiannya sangat membuat Juventus tidak berani pecat doi. Sangat lihai sekali. Saya menyarankan untuk Bapak agar menjaga kesehatan jiwanya dan kadang main ke psikiater. Saya juga menyadari tekanan sebagai Pelatih Klub Besar Eropa sungguh menguras jiwa.

Tapi tahukah engkau wahai Juventini sekalian. Hanya Allegri yang bisa membawa Juve kembali ke final Liga Champions. Bahkan sebelum era Allegri, Juventus mengalami masa-masa suram. Mempertanggungjawabkan kesalahannya dan dihukum jatuh ke Seri B. Pun setelah berhasil naik lagi ke Seri A, Juventus harus merasakan perjuangan untuk kembali ke atas. Bertahun-tahun membangun asa lagi. Bahkan Final Champions terakhir yang kita rasakan adalah saat yang sudah jauh sekali di era Pelatih Legendaris Marcello Lippi di tahun 2003. Allegri membawa Juve di Final pada tahun 2015 dan 2017, dua kali. Ya meskipun kalah di Final tapi itu sudah hasil yang sangat baik. Apalah dibandingkan prestasi kita yang hanya maen Hp.

Saya pun di musim lalu juga pernah meneriakkan Allegri Out di musim lalu. Tapi apapun itu yang bisa kita lakukan hanya menyaksikan dan menikmati laga demi laga. Memang strategi yang dimainkan hanya mementingkan hasil akhir. Tapi bukankah itu yang terpenting dalam sepakbola? Mengapa juga kita sekarang hanya menang selisih satu gol saja? Karena menurut saya bila kita mencetak selisih gol kedua, maka bisa jadi lawan akan termotivasi untuk bangkit. Jadi lebih baik berselisih satu, tapi situasi tetap tidak berubah dan mengamankan kemenangan.

Menurut saya lagi kenapa Juventus pertahankan Bapak Allegri? Yaitu karena petinggi Juventus merasa cocok dengan gaya permainan yang dihadirkan Max Allegri. Juventus telah menetapkan bahwa DNA kita adalah kerja keras. Maka permainan pragmatis dan kemenangan dengan gol yang bukan spektakuler sudah cukup. DNA kita memang bukan menampilkan permainan atraktif dan indah. DNA kita adalah bekerja keras dengan memiliki sistem pertahanan yang kuat dan kiper kualitas nomor wahid. Untuk urusan mencetak gol? Kita saat ini memang cocok dengan Penyerang Jangkung, Header bagus, finisher ulung.

Dan yang terakhir? Apa Anda membenci Allegri karena hasil buruk, ataukah Siapapun Pelatihnya Anda juga akan meneriakkan OUT bila hasilnya juga buruk? Bagaimana bila Allegri mendapat hasil yang baik? Apa? Liga Champions? Setidaknya kita sudah pernah merasakannya, bukan belum pernah sama sekali.

April 29, 2023

Serbian Connection




Kali ini kita akan membicarakan dua pemain Juventus yang memiliki satu kampung halaman yakni "Serbian Connection", Dusan Vlahovic dan Filip Kostic.

Sebenarnya potensi dan bakat dari dua pemain Serbia ini sudah sangat baik. Ini bisa dilihat dari kontribusi mereka saat Juve dalam tren positif sebelum kalah melawan Lazio di Serie A.

Kita tentu ingat saat Kostic membuat gol kemenangan saat melawan Internazionale di Serie A. Dan kita tentu ingat penampilan yang sangat baik dari Mas Dusan diawal setelah ia direkrut dari Fiorentina.

Filip Kostic sejatinya di klub sebelumnya yaitu Frankfurt bermain di posisi Federico Chiesa berada. Yakni penyerang sayap kiri dalam formasi trisula.

Sayang, Filip Kostic oleh Allegri lebih dimainkan sebagai left midfielder atau pemain sayap kiri yang bertugas menyuplai bola. Sedangkan ia juga memiliki potensi sebagai penyerang sama seperti Chiesa.


Sebenarnya potensi Juventus untuk lebih baik di musim ini ada bila mereka konsisten menurunkan 3 penyerang top mereka dengan Kostic-Vlahovic-Di Maria atau bila harus dirotasi Chiesa-Vlahovic-Di Maria. Bila Vlahovic tidak bisa bermain masih ada Arek Milik atau Moise Kean untuk menggantikan Mas Dusan.

Di kanan bila Di Maria tidak bisa bermain saya lebih suka memainkan Samuel Illing Junior daripada Cuadrado yang performanya menurun. Mungkin formasi yang cocok 3-4-3 atau 4-3-3.

Di Frankfurt Filip Kostic juga sering membuat Gol dari posisinya penyerang sayap kiri. Sebenarnya dalam rumor-rumor yang lalu ada satu lagi pemain Serbia yang seperti diminati Juventus yakni pemain SS Lazio, Sergej Milinkovic-Savic. Namun kita lihat saja perkembangannya.

Bagi Dusan Vlahovic dan Filip Kostic sebaiknya mereka diberi kesempatan yang lebih banyak lagi. Mengingat kedua pemain ini kiprahnya di Turin masih seumur jagung. Hal seperti itulah yang juga disampaikan mantan bomber Juventus Fabrizio Ravanelli.

Antara Permintaan Fans dan Kenyataan

Bos Fiorentina, Rocco Commisso baru-baru ini mengungkap bahwa Juventus saat ini kesulitan keuangan akibat perekrutan Cristiano Ronaldo tahun 2018 silam. Biaya transfer ditambah gaji selangit ditengarai yang membuat Juve kelimpungan saat ini. Pernyataan Rocco keluar setelah Fiorentina mengandaskan Cremonese dalam perebutan satu tiket final tersisa Piala Italia. 

Pergerakan transfer klub yang belakangan seperti semakin terbatas dan ketidakmampuan finansial untuk mengganti Pelatih mereka adalah bukti shahih bahwa mungkin keuangan Juventus sedang sulit. Para fans tampaknya harus lebih bersabar melihat kondisi ini.

Dilansir dari detik sport, Juventus dalam laporan keuangannya sejak musim 2017/18 mengalami defisit atau kerugian keuangan yang dari tahun ke tahun semakin besar. Puncaknya di musim 2021/22 klub mengalami kerugian sebesar 254,3 juta Euro (sekitar 3,72 triliun Rupiah).

Dengan kondisi ini tidak heran bila ada rumor-rumor perginya Striker andalan Juventus, Dusan Vlahovic. Kabar terbaru menyebutkan, Juve akan mempertimbangkan menjual Vlahovic dengan melihat proposal yang datang di musim panas nanti. Bila ada tawaran menggiurkan, bukan tidak mungkin Sang Striker akan meninggalkan Juventus.

Dengan keadaan yang seperti ini, Juve diperkirakan masih mengandalkan strategi menambal kekuatan tim dengan skema transfer pinjaman. Juga seperti yang dilakukan di awal musim 2022/23.


Sementara itu di posisi kursi kepelatihan. Allegri yang memimpin tim dengan permainan yang meragukan masih berada dalam tanda tanya. Apabila Allegri di akhir musim pindah menangani klub lain atau ia mengundurkan diri maka manajemen Juventus harus menyiapkan pengganti. Namun pada kenyataan tampaknya Allegri masih pede akan dipertahankan mengingat kondisi finansial klub yang tidak baik.

Menurut media Italia La Gazzetta dello Sport dan Tuttosport, Juve masih akan mempertahankan Massimiliano Allegri. Petinggi klub menilai Allegri masih yang terbaik untuk masa depan jangka panjang klub.

Sementara di lain pihak para fans sudah kelihatan frustasi dengan permainan tim dibawah asuhan Sang Pelatih. Mereka mungkin berpikir tidak ada harapan lagi untuk meraih trophy bila Juve masih diasuh Allegri.

Nama-nama yang muncul bila Juve berganti pelatih seperti Roberto De Zerbi, Igor Tudor, Gian Piero Gasperini, Zidane dan Antonio Conte. Kita simak saja.



April 19, 2023

Apa Sebab Seret Gol


Juventus
harus menerima 2 kekalahan beruntun di Serie A. Lini depan kesulitan mencetak gol. Apa sebab?

Sebab yang pertama adalah kurangnya suplai matang dari gelandang. Juve saat ini mengandalkan sayap mereka dan penyerang sayap untuk mencetak gol. Sedangkan saat ini penyerangan dari sayap bila mengandalkan umpan crossing dan di selesaikan dengan heading dengan perkembangan sepakbola saat ini terasa kurang efektif.

Solusinya adalah harus bisa menyerang dari sisi manapun baik dari sayap maupun tengah pertahanan lawan. Mungkin dengan menambah stok gelandang serang kreatif. Tidak harus mencari pemain mahal bisa juga mengorbitkan pemain dari tim medioker. 

Sebab yang kedua kerja sama penyerangan tidak jelas. Mungkin pemain ketika mencetak gol hanya mengandalkan individu. Solusinya adalah dengan berlatih akurasi umpan dan kerja sama kekompakan tim. Ala Juve tentunya.

Yang ketiga adalah karena lawan bertahan dengan menumpuk pemain bertahan. Atau istilahnya parkir bus. Ditambah kreatifitas dan kerjasama penyerangan yang kurang semakin menjadikan Juventus kesulitan mencetak gol.

Mungkin solusi dari permasalahan terakhir ini dengan memiliki pemain yang jago mengeksekusi bola mati dan memanfaatkan set piece. Baik dari skema tendangan bebas, sundulan mematikan, ataupun berharap kemelut terjadi dan pemain kita berhasil menjaringkan bola ke gawang.

April 17, 2023

Kalah Lagi


Ketika kamu kalah bertanding mungkin saat itu adalah saat yang sulit, apalagi ketika kamu sangat mengharapkan kemenangan. Tapi, menang dan kalah adalah keniscayaan. Kamu tidak mungkin selamanya menang. Kamu pasti suatu saat akan terjatuh.

Dan itulah yang dialami Juventus. Para striker masih gagal mencetak skor. Tapi pertahanan lawan juga tampil gemilang. Sang kiper Sassuolo tampil gemilang. Tampaknya Allegri harus terus mengasah tim dalam penyelesaian akhir. Tidak bisa tidak untuk mengejar tampil di kompetisi antar klub Eropa.

Berlatih serius dan rendah hati. Tampil laga selanjutnya juga harus tetap tenang, serius, sungguh-sungguh dan rendah hati. Apalagi ini sudah masuk akhir dari musim ini.

April 14, 2023

Yes Leg Pertama Kita Menang


Seolah tulisan kami seperti benar-benar didengar kali ini dalam Leg 1 - 8 Besar - Uefa Europa League penyerang kita segera dalam mengeksekusi peluang, terutama di babak pertama. Ya itu penting untuk meningkatkan percaya diri tim dan sugesti positif.

Terbukti cara positif kali ini menghasilkan setidaknya kemenangan di Allianz Stadium. Dengan tim tamu yang gagal mencetak gol tandang.

Selain dari itu, kemenangan kita tercipta dari dna kita selama ini kuat dalam bertahan credit untuk para Bek dan juga memiliki kiper yang bisa diandalkan. Credit juga untuk Szczesny dan Perin.

Tek panggilan akrab Szczesny dalam laga ini juga terpaksa harus digantikan Mattia Perin. Tek didiagnosis mengalami apa yang disebut tachycardia. Ia mengeluhkan dadanya yang sakit. Semoga Tek tidak mengalami problem yang serius mari kita doakan bersama.

Kedua kiper kita bermain sangat baik dan juga pemain bertahan. Di empat puluh lima menit pertama, anak-anak juga menggagalkan dengan block sepakan mendatar pemain Sporting CP.

Laga kali ini juga spesial bagi Federico Gatti. Ia mengubah permainan jadi 1-0 untuk Juventus. Dimana Vlahovic juga berperan penting dalam gol ini. 

Allegri terlihat berkembang secara positif saat ini dan yang ditunggu Juventino adalah konsistensi permainan tim, kuat dalam bertahan dan rutin mencetak gol. Itulah yang ditunggu di Leg 2.

Mental dan kemampuan yang lebih kuat lagi dan kita lihat saja hasilnya Jumat depan. Fino alla fine, forza Juventus






April 10, 2023

Cara Agar Menang


Lazio pecundangi Juventus dalam laga terakhirnya di Serie A.

Lagi Bianconeri tampil kurang impresif.

Ia gagal membuat gol lebih banyak dari Lazio.

Yang menarik dari laga ini tuan rumah bertahan selayaknya Juventus yang dikenal punya pertahanan yang kuat.

Sebaliknya defend kita bisa dinilai buruk terutama gol Lazio yang lahir dari kesalahan pemain sayap Alex Sandro dan Juan Cuadrado.

Lini depan kita juga tampil melempem. Terbukti gol malah lahir dari kaki Adrien Rabiot.

Di Serie A Vlahovic dan Milik sudah lama tak menggetarkan jala lawan.

Solusi
Jangan tunda shot.


Bila sudah mendekati kotak 16 sering lakukan shot.

Cari celah sudut kosong yang peluang gol besar.

Secermat mungkin usahakan shot on goal. 

Jika shot diperbanyak peluang kemelut besar dan kemungkinan scoring juga besar.

Maret 30, 2023

Proyek Panjang Allegri atau Mulai Dari Awal

Gosip-gosip perihal kursi Allenatore Juventus bermunculan. Bergulir sebab nama-nama top sedang jobless. Juventini mungkin mempunyai perbedaan sikap. Banyak yang ingin Allegri dicopot. Ada juga yang bersikap lebih baik dipertahankan.




Performa Juve memang telah membaik. Jika saja 15 poin tidak dihapus, tampaknya Bianconeri sudah menghuni runner up sementara di papan klasemen. Target musim ini dan saya terbiasa realistis adalah posisi Conference League. Jika bisa mencapai posisi Europa tentu itu sudah sangat baik.

Yang jadi tanda tanya adalah performa awal musim. Masihkah Anda ingat performa cukup membagongkan dimana Juventini sudah muak dan frustasi dengan cara bermain tim ini. Kerjasama buruk, hanya mengandal serangan balik dan membiarkan lawan menyerang. Mungkin Allegri saat itu sedang labil dan psikologisnya sedang tidak baik. Dan yang terjadi saat ini adalah kondisi tim berangsur membaik.



Melihat budaya Juventus dalam mengatur keuangan tentu lebih masuk akal bila jajaran direksi lebih melanjutkan proyek jangka panjang bersama Allegri. Kekompakan dan kesatuan tim yang kita harap semakin solid. Meski tampak ada sedikit masalah tentang Moise Kean yang tampil sedikit egois.

Satu-satunya pelatih non-Italia selama era modern ini hanya Didier Deschamps. Saya yakin kecil kemungkinan bila Juve mengganti pelatih dengan Zizou misalnya. Saya tidak tahu lagi bila ada perubahan sikap direksi kedepan. Oleh media Italia para petinggi Juventus saat ini dikatakan sebagai tangan kanan John Elkann sepupu Andrea Agnelli.

Yang pasti hasrat Juventino seluruh dunia tetap satu. Juara Champions dan itu memang berat. Keuangan yang tidak stabil di masa lalu dan berarti ini tantangan yang sangat menantang untuk Presiden dan CEO Juve saat ini.


Testimoni Miralem Pjanic mengatakan bahwa Juve harus mempertahankan Massimiliano Allegri. Kata Pjanic, Allegri adalah sosok yang tidak banyak mengeluh. Menurut hemat saya, bila dibanding dengan Conte mungkin Antonio lebih akan membuat banyak masalah dengan direksi dan sangat bisa dengan pemain juga. Conte baru saja diberhentikan Spurs.


Memang proyek jangka panjang biasanya lebih memberikan hasil yang lebih baik. Bila dibanding harus Pelatih baru yang mulai dari awal dan memakan waktu adaptasi. Kita tonton dan nikmati saja.



Juventus dan Jawa


Sejarah panjang Juventus sebagai salah satu klub tradisional Eropa menjadikan ia memiliki penggemar di seantero penjuru dunia. Tak terkecuali Asia dan Indonesia. Disini seakan penduduk berjubel di Pulau Jawa. Tak heran banyak pula pecinta bola khususnya Juventus yang ada di Jawa. Juventini Jawa juga tak kalah fanatik dalam support tim kesayangan.

Jawa dan Juventus. Sama-sama berawalan J. Jadilah blog ini bernama javajuve.blogspot.com ges. Dan harapan kami sebenarnya tidak terlalu muluk-muluk. Bisa konsisten disini dalam waktu yang lama sudah cukup buat kami. Doa terbaik yang kami harap dari Juventino dimana saja berada. Kami juga ingin kedepan agar yang bisa menikmati blog ini lebih banyak dan lebih luas, tentu dengan beragam bahasa yang disajikan. 


Mengapa ini kami lakukan? Pertama ini karena cinta kita semua pada Juventus. Kedua untuk mengisi waktu. Ketiga untuk mengungkapkan hobi dan semua rasa kita pada bola umumnya dan Juve pada khususnya.

Hal yang menarik adalah cinta kita pada tim ini. Kami yang mulai menyaksikan tim kurang lebih pada awal 2000-an langsung terpukau oleh ajaibnya sentuhan Alex Del Piero. Tak lama selepas Zidane dilego ke Madrid, tim ini mulai membangun lagi dengan masuknya macam Gigi Buffon, Pavel Nedved dkk. 

Euforia Serie A saat itu yang paling kita ingat tentu bila Bianconeri atau tim lain meraih titel, maka tifosi di stadion sampai turun memasuki lapangan. Entah mengapa saat-saat itu adalah waktu yang ingin kita ulang kembali.


Di era 90-an ada satu momen yang paling sakral bagi Juventini adalah ketika meraih trofi terbaiknya Eropa untuk kali kedua. Kita pasti begitu mencintai Marcello Lippi. Ajax kita kalahkan walaupun hanya dengan adu penalti. Sangat khas bagi Italia kemenangan dengan adu penalti.

Kami menulis ini disaat Juventus telah mendapat sanksi pengurangan poin di musim 22/23. Tapi dengan kebangkitannya saat menyingkirkan Freiburg di Europa dan bersiap menghadapi kembali Inter Coppa setelah mengalahkannya di laga Serie A. Dengan kontroversi Rabiot.







September 30, 2021

Hasil Minor Klub Serie A di Champions League, Juventus vs Chelsea? Ini Yang Paling Berat

Tengah pekan ini kompetisi paling bergengsi tim-tim Eropa kembali bergulir.

Messi tengah menikmati saat-saat terbaiknya di Paris-Saint Germain. Satu skornya berhasil memupus harapan The Citizens, sekaligus menjadi gol perdananya bagi PSG. 

Ada pula berita kejutan Madrid yang kalah dari tim kemarin sore. Tim dari negara antah berantah yang masih belum diakui kedaulatannya oleh negara lain. Awas awas sheriff lewat wkwk. 

Semuanya menarik dan bikin untuk selalu disimak. Uefa Champions League.

Kali terakhir tim Italia merebut trofi Si Kuping Besar ada di musim 2009-2010 Timnya adalaah Inter Milan, wuuihh. Jamannya Mourinho nih, masih inget?

Bisa dibilang itu adalah musim yang tidak bisa dilupakan fans Inter Milan karena di musim itu meraih Treble. Dan sampai saat ini menjadi satu-satunya tim Italy yang meraih Treble Winners dalam arti sesungguhnya. Liga Italia, Coppa dan Liga Champions.

Kalau beberapa tahun terakhir ini, Si Putih Hitam lah yang bisa 2 kali mencapai partai puncak. Tapi tetep aja ga bisa memuaskan publik Italy karena kalah besar di Final. Si Nyonya Tua masih jauh dari harapan apalagi kalau dibandingkan kesuksesan Inter. 


Kembali pada realita di tahun 2021 ini. Kita mengamati buat tim Italia sepertinya masih berat.

Dilansir dari detik sepakbola, mantan bintang Juventus Del Piero malah menjagokan Chelsea dan PSG yang terdepan dalam persaingan juara. 

Baik, kita bahas hasil laga dini hari tadi Rabu 29 September.


Milan (1) vs (2) Atletico Madrid

AC Milan yang turun menghadapi lawannya dari La Liga mempunyai bekal sangat bagus. 1 poin di kandang Le Zebre dan 2 kemenangan manis melawan Venezia dan Spezia.

Namun menjamu Atletico Madrid, Milan meraih hasil yang negatif. Laga ini cukup mencuri perhatian dimana Sang Pengadil yang menjadi sorotan. 

Media nasional menyoroti soal taktik Pioli yang malah menjalankan strategi bertahan setelah Kessie mendapat kartu merah. Hasilnya Milan justru selalu ditekan dan Atletico berhasil comeback saat injury time babak kedua.



Shakhtar Donets (0) vs (0) Inter Milan

Duh di laga kali ini Internazionale gagal mengkonversi peluang menjadi gol. Stefan De Vrij sampai menyayangkan rekan-rekannya yang gagal mencetak skor atau bisa disebut buntu.

Edin Dzeko entah lelah atau bagaimana menjadi sorotan karena membuang beberapa peluang.


Next Match: Juve vs Chelsea

Juventus yang masih menjalani awal musim bersama Pelatih baru tapi lama, masih berusaha tampil konsisten dalam setiap laga yang dijalani. 

Kali ini sudah harus berhadapan dengan lawan kakap. Berat.

Kita nikmati saja musim yang menarik.

Just enjoy a cup of coffee and a bowl of instant noodles, wkwk. 









Oktober 12, 2016

Era Kejayaan Juve Setelah Masa Kelam Calciopoli


Era kejayaan Juventus setelah periode kelam Calciopoli memang telah kembali. Tapi itu menurut saya masih setengah dari harapan. Walaupun 5 gelar Serie A dan 2 Coppa Italia serta 3 kali Piala Super Italia menjadi bukti shahihnya.


Ada satu trofi bergengsi non domestik yang masih membuat Juve penasaran. Saat itu 6 Juni 2015 pukul 8.45 malam waktu Eropa Juventus hanya menjadi Runner up Liga Champions Eropa setelah menyerah 1-3 dari Barcelona.

Sebagai raksasa Itali Juve harus mampu merengkuh trofi Liga Champions. Saya rasa begitulah yang sangat diharapkan kami seluruh tifosi Bianconeri di seantero dunia. Hal ini bukan tanpa sebab, rival senegara Juve seperti Milan dan Inter mengoleksi gelar UCL lebih banyak dibandingkan Juve. Milan 7 piala dan Inter 3 piala. Sedangkan kita unggul dalam perolehan gelar Serie A.

Bila kita flashback ke belakang maka memang pantas Juve dijuluki La Fidanzata d'Italia atau Sang Kekasih Italia. Sebab dari setiap dekade ke dekade Serie A dihelat, Juve minimal sekali menjuarai kejuaraan ini di setiap dekade kecuali di dekade 1910-an dan di dekade 1890-an dimana Serie A dimulai tahun 1898. Rekor selama ini diraih pada dekade 30-an, 70-an dan dekade saat ini dimana dalam satu dekade Juventus meraih gelar Serie A sebanyak lima kali.

Berbeda halnya dialami oleh Juventus bila kita berbicara mengenai Liga Champions Eropa. Bila dibandingkan dengan tim tradisional Eropa lain, maka Juve bisa dikatakan tertinggal cukup jauh. Juventus saat ini baru mengoleksi 2 gelar Liga Champions Eropa di musim 1984/95 dan 1995/96. Di posisi ini Juve sejajar dengan Benfica, Nottingham Forest dan Porto yang juga mengoleksi 2 gelar UCL. Raja UCL sampai saat ini disandang oleh Si Putih Real Madrid dengan 11 gelar. Dibawahnya ada rival Juve yaitu AC Milan dengan raihan 7 gelar.

Kemudian pencapaian 5 gelar diperoleh oleh 3 klub beda negara yaitu Liverpool, Barcelona dan Bayern Munich. Lalu Ajax Amsterdam adalah yang selanjutnya dengan 4 piala. Sedangkan raksasa Inggris MU dan rival bebuyutan Juventus FC Internazionale sukses dengan 3 piala UCL. Ketertinggalan dalam meraih gelar Liga Champions inilah yang harus dikejar oleh Juventus

Rupanya ambisi menjuarai Liga Champions ini juga sangat diperhatikan oleh jajaran manajemen Juventus, Sang Presiden Andrea Agnelli yang tidak lain tidak bukan adalah anggota keluarga pemilik Juventus, generasi keempat Keluarga Agnelli yang juga pemilik kerajaan bisnis Fiat Group ini memahami apa yang diinginkan fans. Andrea pun memiliki ambisi besar untuk Juventus.

Ia menargetkan musim ini 2016/17 Juve harus meraih treble. Dan tentu saja salah satu gelar yang diinginkannya adalah Liga Champions Eropa. Target yang dibebankan kepada pelatih Max Allegri bukan hanya sebuah omong kosong. Buktinya pada awal musim ini Juve menggelontorkan banyak uang untuk membeli sejumlah pemain bintang. Tentu saja aktor utama yang menarik perhatian orang direkrutnya Capocanonniere Serie A musim lalu Gonzalo Higuain.

Beppe Marotta direktur olahraga Juventus dalam kesempatan wawancara dengan Radio Rai mengatakan bahwa Juve sekarang mengarah menjadi besar dan dewasa. Ia juga berujar misi Juventus adalah memainkan peran utama dalam setiap kompetisi yang diikuti. "Lemari piala kami membuktikan itu. Pertahanan kami tetap kekuatan utama kami di musim ini. Empat gol kebobolan adalah bukti bahwa pertahanan kita yang terbaik di Serie A. Dasar dari setiap tim pemenang adalah soliditas lini pertahanan. Jika kamu memiliki itu maka akan mudah membangun lini tengah dan lini penyerangan," ujar Marotta.

Tambahnya lagi, "Soliditas adalah konsep yang dianut setiap hari oleh klub, pelatih dan stafnya. Tim harus mempunyai keseimbangan yang sempurna antara pemain muda dan pemain berpengalaman karena kita tahu tim top menjaga pemainnya rata-rata empat tahun."

Beppe Marotta selain membahas tim juga membahas persoalan keuangan klub, "Fakta bahwa laba bersih Juventus telah bertumbuh dari 153 menjadi 341 juta Euro dalam rentang waktu 30 Juni 2011 hingga 30 Juni 2016 sudah jelas meningkatkan kemampuan kami untuk berinvestasi dalam tim dan meningkatkan kualitas secara keseluruhan."

"Dalam hal ini Presiden Andrea Agnelli telah melakukan pekerjaan yang besar untuk melindungi tidak hanya Juventus tapi sepakbola Italia secara keseluruhan," kata Marotta.

Lebih jauh tentang masa depan klub, Andrea Agnelli Presiden Juventus percaya, dalam membangun sebuah tim cara setahap demi setahap dan bersesinambungan akan menghasilkan kejayaan yang panjang dan masif. Namun sebaliknya, bila menggunakan cara instan yakni hanya jor-joran menggelontorkan dana untuk membeli pemain maka itu bisa mengakibatkan goncangnya keuangan klub.

Pada akhirnya seperti yang telah diulas diatas, harapan kami sebagai tifosi Juventus sudah tidak sabar untuk mendapat kesempatan merayakan para punggawa Bianconeri mengangkat trofi Liga Champions Eropa. Tentu dengan kerja keras tim, soliditas, kompak dan konsisten bermain pantang menyerah di atas lapangan sehingga pada akhirnya titel itu bertambah satu lagi.


Mei 09, 2016

"Kami Persembahkan Jiwa Kami," Kata Ranieri

Mahrez (Youtube/Macaroni) 

Kami persembahkan jiwa kami, begitu kata Ranieri dalam berita yang dimuat Topskor 5 Februari 2016 jauh sebelum Leicester juara tapi sudah menjadi pemuncak klasemen sementara unggul tiga poin dari posisi dua saat itu Man. City.

Lengkapnya, "Kami persembahkan jiwa kami, tak cuma hati kami, semuanya kami persembahkan untuk fans kami," ungkap Ranieri.

Ya, kata-kata itu sekarang terbukti jelas setelah mimpi benar-benar menjadi kenyataan. Apa yang disebut Ranieri bermain dengan segenap jiwa sekarang nyata menjadi satu trofi Premier League. Menjadi juara di liga yang konon katanya terbaik di muka bumi.

Saya (Hafid) tahu bagaimana rasanya jika tim yang ada di hati saya menjadi juara sehingga saya tahu bagaimana rasanya jika tim anda juga menjadi juara. Bahkan ini sangat spesial, para pendukung Leicester pertama kali merasakan tim yang dicintainya menjadi juara. Tentunya mengingat fakta bahwa mereka di musim lalu hampir terdegradasi. 

Leicester City menjadi kampiun Premier League di pekan ke-36 dengan 77 poin unggul 7 poin dari peringkat kedua Spurs. Sehingga perolehan poin Leicester tidak dapat terkejar lagi mengingat sisa pertandingan tinggal 2 laga. Sebenarnya di pekan 36 The Foxes hanya bermain imbang 1-1 melawan MU, tapi Spurs sendirilah yang gagal meraih kemenangan disaat mereka memang dituntut menang untuk mengejar poin Leicester City.

Ada fakta menarik menyangkut pertandingan Chelsea vs Tottenham Hotspurs. Dikala bek Leicester Danny Simpson dan semua pemain The Foxes harap-harap cemas memilih untuk menyaksikan apa yang terjadi di pertandingan yang akan menentukan nasib tim mereka tersebut, Hal lain dipilih sang Allenatore Claudio Ranieri. Ia lebih memilih menemui ibunya untuk makan siang bersama di Italia.

Claudio Ranieri (Youtube/Football Religion)
"Saya ingin menonton pertandingan Tottenham, tapi saya dalam penerbangan kembali (ke Inggris) dari Italia. Ibu saya berusia 96 tahun dan saya ingin makan siang dengannya. Saya akan menjadi pria terakhir di Inggris yang tahu (hasil pertandingan)," tegas Ranieri setengah bercanda.

Kejutan lainnya juga hadir ketika Gelandang Leicester City Ryad Mahrez menjadi pemain terbaik Premier League musim ini versi PFA atau Asosiasi Pemain Sepakbola Profesional Inggris. Dengan 17 gol dan 11 assist dalam 33 pertandingan membuat kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Ia berhasil mengungguli rekan setim seperti Jamie Vardy dan N'Golo Kante serta Harry Kane, Dimitri Payet dan Mesut Ozil.

Selain itu Jamie Vardy mengangkat penghargaan individu pemain terbaik Liga Ingggris versi FWA atau Asosiasi Jurnalis Sepakbola. Kali ini ia menyisihkan rekan setimnya Ryad Mahrez dan N'Golo Kante.

Sementara itu di pihak lain manajer Arsenal Arsene Wenger mengaku sakit hati melihat tim medioker macam Leicester City bisa juara.

"Saya menikmati musim ini tanpa ada penyesalan sedikitpun. Namun tetap saja rasanya sedikit sakit jika sadar kalau Leicester City sudah menjadi juara saat ini. Tapi, saya harus mengakuinya karena mereka memang tim yang lebih baik dari kami musim ini, kata Wenger seperti diberitakan Daily Star.

Namun Wenger juga yakin jika bukan hanya timnya yang merasakan perasaan seperti itu. "Menurut saya bukan hanya Arsenal yang merasa sakit hati saat ini. Apa kalian pikir Manchester City, Manchester United dan Spurs tidak merasa sakit hati saat ini. Ya inilah kompetisi, hal seperti ini kadang harus terjadi," komentar Wenger.

Kontra Inter - Seri 2

    javajuve.blogspot.com - Pada Derby Italia senin kemarin Juve gagal mengkudeta Internazionale yang ada di puncak klasemen sementara Serie...