javajuve.blogspot.com - Selamat malam viewers dan pendukung setia Juventus. Malam ini kita akan bahas tema yang paling bagong buat pendukung setia juve. Sesosok pria yang kalo lagi di pinggir lapangan sontak mungkin ada yang menyebutnya setress. Bagaimana tidak saya sendiri ngakak kalo doi sampe banting-banting pakaian apalagi tendang-tendang apalah yang ada di bawah. Ya kita akan membahas Orang Tua kita semua, siapalagi kalo bukan Bapak Allegri.
Sosok yang membuat semua Juventini ikut-ikutan setres di musim kemaren. Ada yang geregetan, ada yang bilang ALLEGRI OUT, ada juga yang bilang Allegri Out, eh sama aja ya? Sungguh kelihaiannya sangat membuat Juventus tidak berani pecat doi. Sangat lihai sekali. Saya menyarankan untuk Bapak agar menjaga kesehatan jiwanya dan kadang main ke psikiater. Saya juga menyadari tekanan sebagai Pelatih Klub Besar Eropa sungguh menguras jiwa.
Tapi tahukah engkau wahai Juventini sekalian. Hanya Allegri yang bisa membawa Juve kembali ke final Liga Champions. Bahkan sebelum era Allegri, Juventus mengalami masa-masa suram. Mempertanggungjawabkan kesalahannya dan dihukum jatuh ke Seri B. Pun setelah berhasil naik lagi ke Seri A, Juventus harus merasakan perjuangan untuk kembali ke atas. Bertahun-tahun membangun asa lagi. Bahkan Final Champions terakhir yang kita rasakan adalah saat yang sudah jauh sekali di era Pelatih Legendaris Marcello Lippi di tahun 2003. Allegri membawa Juve di Final pada tahun 2015 dan 2017, dua kali. Ya meskipun kalah di Final tapi itu sudah hasil yang sangat baik. Apalah dibandingkan prestasi kita yang hanya maen Hp.
Saya pun di musim lalu juga pernah meneriakkan Allegri Out di musim lalu. Tapi apapun itu yang bisa kita lakukan hanya menyaksikan dan menikmati laga demi laga. Memang strategi yang dimainkan hanya mementingkan hasil akhir. Tapi bukankah itu yang terpenting dalam sepakbola? Mengapa juga kita sekarang hanya menang selisih satu gol saja? Karena menurut saya bila kita mencetak selisih gol kedua, maka bisa jadi lawan akan termotivasi untuk bangkit. Jadi lebih baik berselisih satu, tapi situasi tetap tidak berubah dan mengamankan kemenangan.
Menurut saya lagi kenapa Juventus pertahankan Bapak Allegri? Yaitu karena petinggi Juventus merasa cocok dengan gaya permainan yang dihadirkan Max Allegri. Juventus telah menetapkan bahwa DNA kita adalah kerja keras. Maka permainan pragmatis dan kemenangan dengan gol yang bukan spektakuler sudah cukup. DNA kita memang bukan menampilkan permainan atraktif dan indah. DNA kita adalah bekerja keras dengan memiliki sistem pertahanan yang kuat dan kiper kualitas nomor wahid. Untuk urusan mencetak gol? Kita saat ini memang cocok dengan Penyerang Jangkung, Header bagus, finisher ulung.
Dan yang terakhir? Apa Anda membenci Allegri karena hasil buruk, ataukah Siapapun Pelatihnya Anda juga akan meneriakkan OUT bila hasilnya juga buruk? Bagaimana bila Allegri mendapat hasil yang baik? Apa? Liga Champions? Setidaknya kita sudah pernah merasakannya, bukan belum pernah sama sekali.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar