Mei 09, 2016

"Kami Persembahkan Jiwa Kami," Kata Ranieri

Mahrez (Youtube/Macaroni) 

Kami persembahkan jiwa kami, begitu kata Ranieri dalam berita yang dimuat Topskor 5 Februari 2016 jauh sebelum Leicester juara tapi sudah menjadi pemuncak klasemen sementara unggul tiga poin dari posisi dua saat itu Man. City.

Lengkapnya, "Kami persembahkan jiwa kami, tak cuma hati kami, semuanya kami persembahkan untuk fans kami," ungkap Ranieri.

Ya, kata-kata itu sekarang terbukti jelas setelah mimpi benar-benar menjadi kenyataan. Apa yang disebut Ranieri bermain dengan segenap jiwa sekarang nyata menjadi satu trofi Premier League. Menjadi juara di liga yang konon katanya terbaik di muka bumi.

Saya (Hafid) tahu bagaimana rasanya jika tim yang ada di hati saya menjadi juara sehingga saya tahu bagaimana rasanya jika tim anda juga menjadi juara. Bahkan ini sangat spesial, para pendukung Leicester pertama kali merasakan tim yang dicintainya menjadi juara. Tentunya mengingat fakta bahwa mereka di musim lalu hampir terdegradasi. 

Leicester City menjadi kampiun Premier League di pekan ke-36 dengan 77 poin unggul 7 poin dari peringkat kedua Spurs. Sehingga perolehan poin Leicester tidak dapat terkejar lagi mengingat sisa pertandingan tinggal 2 laga. Sebenarnya di pekan 36 The Foxes hanya bermain imbang 1-1 melawan MU, tapi Spurs sendirilah yang gagal meraih kemenangan disaat mereka memang dituntut menang untuk mengejar poin Leicester City.

Ada fakta menarik menyangkut pertandingan Chelsea vs Tottenham Hotspurs. Dikala bek Leicester Danny Simpson dan semua pemain The Foxes harap-harap cemas memilih untuk menyaksikan apa yang terjadi di pertandingan yang akan menentukan nasib tim mereka tersebut, Hal lain dipilih sang Allenatore Claudio Ranieri. Ia lebih memilih menemui ibunya untuk makan siang bersama di Italia.

Claudio Ranieri (Youtube/Football Religion)
"Saya ingin menonton pertandingan Tottenham, tapi saya dalam penerbangan kembali (ke Inggris) dari Italia. Ibu saya berusia 96 tahun dan saya ingin makan siang dengannya. Saya akan menjadi pria terakhir di Inggris yang tahu (hasil pertandingan)," tegas Ranieri setengah bercanda.

Kejutan lainnya juga hadir ketika Gelandang Leicester City Ryad Mahrez menjadi pemain terbaik Premier League musim ini versi PFA atau Asosiasi Pemain Sepakbola Profesional Inggris. Dengan 17 gol dan 11 assist dalam 33 pertandingan membuat kualitasnya tidak perlu diragukan lagi. Ia berhasil mengungguli rekan setim seperti Jamie Vardy dan N'Golo Kante serta Harry Kane, Dimitri Payet dan Mesut Ozil.

Selain itu Jamie Vardy mengangkat penghargaan individu pemain terbaik Liga Ingggris versi FWA atau Asosiasi Jurnalis Sepakbola. Kali ini ia menyisihkan rekan setimnya Ryad Mahrez dan N'Golo Kante.

Sementara itu di pihak lain manajer Arsenal Arsene Wenger mengaku sakit hati melihat tim medioker macam Leicester City bisa juara.

"Saya menikmati musim ini tanpa ada penyesalan sedikitpun. Namun tetap saja rasanya sedikit sakit jika sadar kalau Leicester City sudah menjadi juara saat ini. Tapi, saya harus mengakuinya karena mereka memang tim yang lebih baik dari kami musim ini, kata Wenger seperti diberitakan Daily Star.

Namun Wenger juga yakin jika bukan hanya timnya yang merasakan perasaan seperti itu. "Menurut saya bukan hanya Arsenal yang merasa sakit hati saat ini. Apa kalian pikir Manchester City, Manchester United dan Spurs tidak merasa sakit hati saat ini. Ya inilah kompetisi, hal seperti ini kadang harus terjadi," komentar Wenger.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kontra Inter - Seri 2

    javajuve.blogspot.com - Pada Derby Italia senin kemarin Juve gagal mengkudeta Internazionale yang ada di puncak klasemen sementara Serie...